Let the light pierce through the darkness Close all old accounts, turn a new leaf Re-learn that old lesson of friendship Kill nor be killed, settle for lessening Amidst us of this fossilized hatred
Xavier Quentin Pranata’s Blog
Welcome to my blog . . . .
Perhaps that time has not come yet when our, Gods would listen to the beats in our hearts, peace and happiness spread their glow, perhaps we would have to force Mother Time?.
Sikap pemenang bukanlah orang yang pura-pura menang padahal kalah. Sikap pemenang adalah orang yang berani berkata bahwa dia kalah tetapi bangkit lagi untuk meraih kemenangan yang tertunda. (Xavier Quentin Pranata)
B A C A S E L E N G K A P N Y A »»»»JOGJA ATAU BALI
Diambil dari buku: Love Is Beautiful - Xavier Quentin Pranata
Tiga orang karyawan diminta menghadap atasannya. Ketika berada di ruang kantornya, mereka disodori amplop berisi tiket perjalanan pesawat terbang sebagai bonus prestasi mereka. Di sepanjang jalan menuju bandara, mereka berkali-kali berkata, “Jogja!” sambil mengangkat kedua tangan mereka sebagai ekspresi kegembiraan mereka. Bahkan ketika di atas pesawat pun, sebelum tidur, mereka berkata sekali lagi, “Jogja!”
Ketika pesawat mendarat, di landasan pun mereka berkata, “Jogja!” Namun, saat mata mereka melihat papan nama bandara itu, mereka langsung menari-nari dan teriakan mereka berganti, “Bali!”
Iklan itu diakhiri dengan punch line “Lebih berasa, berasa lebih!” Meskipun iklan itu tidak masuk akal—masa mereka tidak bisa membaca tulisan yang tertera di tiketnya yang menunjukkan tujuan mereka—iklan itu memberi kita bahwa kita akan merasa lebih gembira jika mendapatkan surprise yang menyenangkan. Bagi pemasang iklan itu, Bali dianggap sebagai tujuan wisata yang lebih menyenangkan ketimbang Jogja. Pemerintah pun menganggap Bali sebagai daerah tujuan wisata nomor satu di Indonesia, sedangkan Jogja nomor dua.
Tuhan kita jauh lebih baik dari itu. Kita yang diampuni dari dosa kita dan diberi anugerah keselamatan pasti merasakan hal itu. Bukankah ‘grace’ berarti ‘we receive what we don’t deserve’? Sebagai manusia berdoa kita tidak seharusnya mendapatkan keselamatan. Jika kita mendapatkannya itu hanyalah kasih karunia Allah. Bukan hanya itu, kata ‘mercy’ berarti ‘we don’t receive what we deserve’!
Kita gembira karena Tuhan itu bukan seorang pendendam. Sebaliknya, Dia justru seorang pengampun. Dia senang sekali memberkati anak-anak-Nya. Tugas kita hanyalah taat dan setia. “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mazmur 37:3-4). Jika kita jatuh dalam dosa, mari segera datang kepadanya dan meminta ampun. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).
Seperti ilustrasi Jogja dan Bali di atas, Tuhan pun sering memberi kita kejutan yang menyenangkan: “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”” (1 Korintus 2:9).
Bagaimana kita bisa memperoleh apa yang diinginkan hati kita? Pertama, mintalah dengan akronim ASK, yaitu Ask, Seek and Receive: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7).
Kedua, percayalah bahwa kita sudah mendapatkannya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Markus 11:24).
Ketiga, lakukan dengan penuh keyakinan: “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin” (Yakobus 1:6).
“Setiap kita mengalami dua kali kematian: kematian terhadap dosa dan kematian fisik. Kematian yang pertama jauh lebih penting karena kematian itui juistru membuat kita hidup selamanya bersama Tuhan saat kematian kedua datang.” Xavier Quentin Pranata
B A C A S E L E N G K A P N Y A »»»»PENDETA CERDIK
Diambil dari buku: 100 Ha Ha Pendeta - Xavier Quentin Pranata
“Pak Pendeta, apa rahasianya sehingga penginjilan Anda sangat berhasil?” tanya seorang jemaat kepada gembalanya.
“Rahasianya adalah menjadi sesuai dimana kita berada. Di pasar, kita harus bisa menjadi pedagang, walaupun kita seorang prajurit perang. Untuk mengajak beberapa pedagang menuju kasih Allah. Di sawah, kita harus bisa menjadi seorang petani, walaupun kita sebenarnya seorang pelukis. Dengan menjadi petani, kita dapat mengajak beberapa petani menuju kasih Allah. Di pantai, kita harus bisa menjadi seorang nelayan sehingga bisa mengajak beberapa nelayan menuju kasih Allah.”
Jemaat lain yang iseng bertanya pada Pendeta itu, “Kalau kita di rumah sakit jiwa?”
Pak Pendeta tampak termenung sejenak, lalu ia menjawab, “Aku akan menjadi seorang dokter untuk mengajakmu kembali ke jalan yang benar.”
BUATAN TUHAN
Diambil dari buku: 366 Renungan Untuk Menjadi Pribadi Profesional - Xavier Quentin Pranata
“Semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas” (Amsal 30:25)
Profesional, suatu siang di sebuah kedai kopi, seorang sahabat memperlihatkan arloji barunya. Ketika saya tanya berapa harganya, dia berkata, “Waktu saya beli harganya 275 juta rupiah. Sekarang sekitar 700 juta rupiah.” Arloji merek ternama itu terbuat dari planitum dan dihiasi oleh berlian baik di dalam kaca kristalnya maupun di luarnya.
Setelah itu sahabat saya itu menceritakan bahwa dia memang senang mengoleksi jam-jam papan atas. “Jika kita membeli jam yang harganya di bawah sepuluh juta, maka semakin tahun harganya akan semakin murah. Sebaliknya, jika kita membeli jam yang harganya puluhan sampai ratusan juta, apalagi kalau yang limited edition, harganya akan semakin tinggi!” ujarnya. “Jadi, bagi saya membeli jam mahal bukan sekadar koleksi atau gagah-gagahan, tetapi sebagai salah satu bentuk investasi,” imbuhnya. Ketika saya tanya lebih lanjut, investasi apa yang menurutnya akan tetap bertahan di saat krisis. “Tanah,” jawabnya singkat. “Sampai hari ini saya belum pernah menjual tanah warisan saya yang ada di kampung. Bahkan jika ada yang mau menjual, saya akan membelinya!”
Profesional, meskipun ada orang yang menganggap bahwa mengoleksi arloji mahal itu merupakan salah satu bentuk borjuisme, namun ternyata ada sisi lain yang seringkali lepas dari pengamatan kita. Contohnya teman saya tadi. Bagi orang yang melihatnya, mungkin mereka akan berkata, “Orang ini berlebihan!” Atau lebih keras lagi, “Menghambur-hamburkan uang saja!” Namun, ternyata dia tidak sebodoh itu. Sahabat saya itu bahkan menceritakan ada seorang temannya yang membeli arloji model ‘kuno’ seharga 200 juta yang sekarang ditawar orang 1 milyar rupiah. Mari kita belajar dari semut yang berinvestasi untuk masa depan dan investasi yang terbaik adalah buatan Tuhan.
Doa: Bapa, aku berterima kasih dan mengucap syukur karena masih bisa bekerja dan berinvestasi. Jaga agar aku bisa memikirkan ivestasi jangka panjang dan bernilai kekal.
B A C A S E L E N G K A P N Y A »»»»
Setiap kali kita merayakan ulang tahun sebenarnya umur kita berkurang satu tahun. Itu sebabnya kita harus semakin dekat kepada tanah dalam arti merendahkan diri di hadapan Tuhan dan mensyukuri apa yang sudah Tuhan kerjakan dengan debu dan tanah yang diberi nafas ini.”
Xavier Quentin Pranata
B A C A S E L E N G K A P N Y A »»»»
Belajar dari masa lalu, berbuat maksimal pada masa kini, dan buat rencana yang jelas untuk masa depan serta berharap yang terbaik dari Tuhan merupakan empat tiang kokoh rumah tangga dan karier kita. (Xavier Quentin Pranata)
B A C A S E L E N G K A P N Y A »»»»KEUANGAN KELUARGA
Diambil dari buku: 100 Humor Suami Istri - Xavier Quentin Pranata
Suatu hari ada sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Sampai akhirnya, sang istri meledak marahnya, “Kalau bukan karena uang saya, komputer ini tidak ada di sini. Kalau bukan karena uang saya, video ini tidak ada di sini. Kalau bukan karena uang saya, AC ini tidak ada di sini.”
Suaminya dengan tenang menjawab, “Kalau bukan karena uangmu, saya tidak akan ada di sini!”
MENINGGALKAN, MENYATU DAN MERENDA MASA DEPAN (III)
Diambil dari buku: Power Of Intimacy - Xavier Quentin Pranata
Merenda
Setelah bulan madu usai, kita harus mempertahankan agar madu dan susu tetap ada di dalam rumah tangga kita sampai mata tua. Secara pribadi, saya tidak setuju dengan kata ‘bulan madu’ karena artinya sukacita di dalam pernikahan hanya berlangsung paling lama 31 hari, bahkan kalau bulan Februari bisa hanya 28 hari. Jika kita hanya bersukacita dengan pasangan pada bulan madu saja, artinya setelah itu hidup kita akan diwarnai dengan tahun-tahun empedu.
Sebaliknya, kita harus merenda masa depan dengan terus menjaga agar api cinta terus menyala. Apa saja yang perlu kita lakukan agar pernikahan kita bisa kita pertahankan sampai maut memisahkan kita?
Pertama, kita harus menyadari bahwa secara fisik kita pasti mengalami kemerosotan. Namun, jangan sampai kemerosotan fisik itu ikut membuat cinta kita terhadap pasangan luntur. “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (2 Korintus 4:16). Oleh sebab itu, kita tidak boleh membanding-bandingkan pasangan kita dengan orang lain, apalagi foto artis. Pasangan kita, dengan berlalunya waktu, pasti mengalami penuaan dengan kerut-merutnya, sedangkan foto artis—namanya saja foto—pasti tetap segar dan fresh.
Kedua, kita harus berusaha untuk memandang pasangan dari sisi yang positif. Dengan berfokus kepada kelebihan, kita lebih bisa mentolerir kekurangan pasangan. Toh kita sendiri tidak lepas dari kekurangan. “Kasih menutupi segala sesuatu”, termasuk kelemahan dan kekurangan pasangan.
Ketiga, memberikan sentuhan-sentuhan fisik maupun emosional yang akan memperbanyak rekening tabungan kita di bank emosional. Kecupan kecil di kening, ucapan ‘I love you baby!’ dan kado yang pantas merupakan tabungan-tabungan yang pasti mengalami bunga berbunga.
Kiranya pernikahan Anda bisa abadi, kekal dan langgeng!
MENINGGALKAN, MENYATU DAN MERENDA MASA DEPAN (II)
Diambil dari buku: Power Of Intimacy - Xavier Quentin Pranata
Menyatu
Segera setelah meninggalkan keluarga yang lama, kita harus menyatu dengan isteri kita dan membentuk keluarga yang baru. Proses penyatuan ini, meminjam istilah Walter Trobisch, adalah seperti dua lembar kertas yang dilem satu sama lain. Setelah kering, kita tidak mungkin lagi memisahkan tanpa merusak atau merobek keduanya. Agar bisa menyatu dengan baik, suami harus mengasihi isterinya seperti Kristus mengasihi jemaat; isteri harus tunduk kepada suaminya dan anak-anak harus menaati orangtuanya. Apa arti menyatu di sini?
Pertama, secara daging. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Oleh sebab itu, meskipun hanya sebagai salah satu ikatan rumah tangga yang diberkati Tuhan, seks tidak boleh disepelekan. “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak” (1 Korintus 7:5).
Kedua, secara rohani. Seorang bertanya lewat SMS-G—pelayanan via ponsel di GBI Happy Family Center—apakah boleh mcnceraikan pasangan yang tidak seiman? Jawabannya jelas: tidak boleh. “Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus” (1 Korintus 7:14).
Ketiga, secara selera. Bener nih? Mungkin ada yang bertanya. Ya, pasangan yang saling mengasihi akhirnya akan memiliki selera yang hampir sama karena masing-masing mencoba menyesuaikan diri. Dulu saya tidak suka mie, tetapi karena Fransiska Xaviera Susana, isteri tercinta saya, sangat gemar makanan ini saya jadi ikut-ikutan mencoba dan sekarang mie menjadi salah satu makanan favorit saya. Pengamatan dan pengalaman praksis saya di dalam konseling rumah tangga meneguhkan hal ini.
Xavier Quentin Pranata adalah jurnalis yang ikut merintis pendirian majalah rohani populer BAHANA dan Renungan Malam.Putra bungsu dari sembilan bersaudara ini menyelesaikan pendidikan S-1-nya di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Program Pasca Sarjana diselesaikannya di Sekolah Tinggi Teologia Injili Indonesia, Yogyakarta. Kini selain menjadi Associate Pastor di GBI Happy Family Centre, Surabaya, suami Fransiska Xaviera Susana dan ayah Yonatan dan Yosafat ini aktif menulis di berbagai media, di antaranya majalah BAHANA, tabloid Gloria, renungan Profesional dan Renungan Blessing. Di samping seri "100 Kisah", karyanya yang lain adalah "Melayani Dia Melalui Pena" dalam buku "Visi Pelayanan Literatur", Kiat Membangun Peluang dan Kepuasan Kerja di Saat Krisis", "SARS", "Thank You Papa", "Menulis dengan Cinta", "100 Humor yang Menguatkan Tulang Anda", semuanya diterbitkan penerbit ANDI dan "Power Within Us" serta "You Are What You Think", oleh penerbit Gloria.











